Pendidikan KH.Hasyim Asy’ari

Makalah Tentang Konsep Pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari

BAB II

PEMBAHASAN

A.    RIWAYAT HIDUP K.H.HASYIM ASY’ARI

K.H. Hasyim Asy’ari merupakan salah seorang sosok yang tumbuh dewasa dan menghabiskan waktu hidupnya di pondok pesantren. Pendidikan pesantren yang begitu telah khas yang membesarkannya menjadi sosok alim dalam hal keagamaan, juga mempunyai concern terhadap pemberdayaan umat

K.H. Hasyim Asy’ari dilahirkan pada hari selasa kliwon tanggal 24 Dzulqa’dah 1287 H bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M. kutipan (Solikah; 2012; 73) dari kitab Adab A’lim Wa Muta’allim karangan K.H. Hasyim Asy’ari.

Berdasarkan kutipan (Samsul Nizar; 2011; 335) dari Kitab Adab A’lim Wa Muta’allim karangan K.H. Hasyim Asy’ari bahwa nama lengkap Hasyim Asy’ari adalah Muhammad Hasyim Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim yang mempunyai gelar pengeran Bona bin Abdur Rahman yang dikenal dengan sebutan Jaka Tingkir Sultan Hadiwijaya bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatah bin Maulana Ishal dari Raden Ainul Yakin yang disebut dengan Sunan Giri.

Adapun guru pertama K.H. Hasyim Asy’ari adalah ayahnya sendiri. beliaulah  yang mengajar dan mendidiknya dengan tekun sehingga hasyim asy’ari dapat membaca al-qur’an dan literatur-literatur  islam lainnya. setelah mulai mahir membaca al-qur’an baru beliau di masukkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi yaitu pesantren. Pada awalnya, ia menjadi santri di Pesantren Wonokojo di Probolinggo, kemudian pindah ke Pesantren Langitan,Tuban.  Dari pondok inilah santri yang cerdas tersebut berpindah lagi ke Bangkalan, yaitu di sebuah pesantren yang diasuh oleh Kyai Kholil. Terakhir-sebelum belajar ke makkah- ia sempat nyantri di Pesantren Sewalan Panji, Sidoarjo. Pada pesantren ini yang terakhir inilah ia diambil sebagai menantu oleh Kyai Ya’kub, pengasuh pesantren tersebut.

Sebagaimana santri pada umumnya, K.H. Hasyim Asy’ari senang belajar di pesantren sejak masih belia. Sebelum umur delapan tahun Kiai Usman sangat memperhatikannya. Kemuadian pada tahun 1876 ia meninggalkan kakeknya tercinta dan memulai pelajarannya yang baru di pesantren orang tuanya sendiri di Desa Keras, tepatnya di bagian selatan Jombang.(Lathiful Khuluq ; 2000 ; 14-15)

 

Pada tahun 1892 K.H. Hasyim Asy’ari menikah dengan khadijah, putri Kyai Ya’kub. Tidak berapa lama menikah beliau beserta istri dan mertuanya berangkat haji ke Makkah yang dilanjutkan dengan belajar di sana. Akan tetapi, setelah istrinya meninggal setelah melahirkan, disusul kemudian putranya, menyebabkannya kembali lagi ke tanah air. Tidak berapa lama kemudian, ia berangkat lagi ke tanah suci, tidak hanya untuk menuniakan ibadah haji, tetapi juga untuk belajar kepada beberapa ulama terkenal seperti Syekh Ahmad Amin Al-aththar, Sayyid Sultan bin Hasyim, Sayyid Ahmad bin Hasan Al-aththar, Syekh Sayyid Yamay, Sayyid Alawi bin Ahmad Al-saqqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah Az-zawawy, Syekh Shaleh Bafadhal, dan Syekh Sultan Hasyim Dagastani.

Setelah lebih kurang tujuh tahun belajar di Makkah, pada tahun 1899/1900, ia kembali ke Indonesia dan mengajar di pesantren ayahnya, baru kemudian mendirikan pesantren sendiri di daerah sekitar Cukir, Pesantren Tebu Ireng, pada tanggal 6 Februari 1906. Dari pesantren inilah banyak timbul ulama-ulama untuk wilayah jawa dan sekitarnya.

Pada awal karir, K.H. Hasyim Asy’ari bukanlah seorang aktivis politik juga dan bukan musuh utama penjajahan belanda. Beliau ketika itu belum peduli untuk menyebarkan ide-ide politik dan umumnya tidak keberatan dengan kebijakan belanda selama tidak membahayakan keberlangsungan ajaran-ajaran islam. Dalam kaitan ini, beliau tidaklah seperti H.O.S. Cokroaminoto dan Haji Agus Salim, pemimpin utama syarikat islam, atau Ir. Soekarno, pendiri Partai Nasional Indonesia dan kemudian menjadi presiden pertama Indonesia, yang memvokuskan diri pada isu-isu politik dan bergerak terbuka selama beberapa tahun untuk kemerdekaan Indonesia. Meskipun demikian, K.H. Hasyim Asy’ari dapat dianggap sebagia pemimpin bagi sejumlah tokoh politik dan sebagai tokoh pendiri Nahdlatu Ulama’

Masyarakat colonial adalah masyarakat yang serba eksploratif dan disriminatif yang dilakukan penjajah melalui dominasi politik. Factor pendukungnya adalah kristenisasi dan westrenisasi serta pembiaran terhadap adat tradisional yang menguntungkan penjajah. System colonial ini dipentaskan selam tiga setengah abad di Indonesia oleh bangsa barat. Perjuangan melawan kolonialisme telah dilakukan oleh bangsa Indonesia sejak datangnya penjajah, demi kebebasan agama dan bangsanya. Pesantren dan ulama mempunyai peran besar dalam masalah ini, bahkan pesantren adalah pelopor perjuangan.(Tamyiz Burhanuddin; 2001; 26)

B.     KONSEP PENDIDIKAN  K.H. HASYIM ASY’ARI

1.      Urgensi pendidikan

Urgensi pendidikan terletak bagaimana memberi kontribusi pada masyarakat yang berbudaya dan beretika jadi tujuan mempelajari ilmu adalah untuk diamalkan

Pola pemaparan konsep pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab Alim Wa Muta’allim mengikuti logika induktif, di mana beliau mengwali penjelasannya langsung dengan mengutip ayat-ayat al-qur’an. Hadits, pendapat para ulama, syair-syair yang mengadung hikamah.dengan cara ini. K.H. Hasyim Asy’ari memberi pembaca agar menangkap ma’na tanpa harus dijelaskan dengan bahasa beliau sendiri. Namun demikaian, ide-ide pemikirannya dapat dilihat dari bagaimana beliau memaparkan isi kitab karangan beliau.(Sarwo Imam Taufiq; 2008; 22).

K.H. Hasyim Asy’ari memaparkan tingginya penuntut ilmu dan ulama dengan mengenengahkan ayat Al-qur’an yang berbunyi:

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.(al-mujdalah; 11)

Di tempat lain, K.H. Hasyim Asy’ari menggabungkan surah Al bayyinah yang berbunyi:

7. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk.

8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (Al-bayyinah ; 7-8)

 

Premis dari ayat pertama menyatakan ulama adalah hamba yang takut kepada Allah SWT sedangkan pada ayat kedua menyatakan bahwa takut kepad Allah SWT adalah makluk yang terbaik. Kedua premis ini dapat dikongklusikan menjadi ulama merupakan makluk terbaik disisi Allah SWT.

2.      Tujuan pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari

Tujuan pendidikan yang ideal menurut K.H. Hasyim Asy’ari adalah untuk membentuk masyarakat yang beretika tinggi (akhlaqul karimah). rumusan ini secara implisit dapat terbaca dari beberapa hadits dan pendapat ulama yang dikutipnya. Beliau menyetir  sebuah hadits yang berbunyi: “diriwayatkan  dari Aisyah r.a. dari Rasulullah SAW bersabda : kewajiban orang tua terhadapnya adalah membaguskan namanya, membaguskan ibu susuannya dan membaguskan etikanya”.(Sarwo Imam Taufiq; 2008; 26)

3.      Konsep dasar belajar

Kiai asyim tidak merumuskan definisi belajar secara kongkret dalam karyanya Adab ‘Alim Wa Al-Muta’allim. Untuk mendapatkan rumusan yang jelas tentang konsep belajar beliau, mau tidak mau harus menarik pengertian dari keseluruhan isi kitab, baru kemudian dicoba dirumuskan definisi tersebut. (Sarwo Imam Taufiq; 2008; 33)

Konsep dasar belajar menurut K.H. Hasyim Asya’ri sesungguhnya dapat ditelusuri melalui penjelasannya tentang etika seorang murid yang sedang belajar, etika seorang murid terhadap pelajarannya, dan etika seorang murid terhadap sumber belajar (kitab, buku). Dari tiga konsep etika tersebut dapat ditemukan gambaran yang cukup terang bagaiman konsep dan prinsip-prinsip belajar menurut beliau.

Kiai hasyim mengiventarisir terdapat sepuluh macam etika yang harus dicamkan seorang siswa dalam belajar, Berdasarkan kutipan Sarwo imam taufiq; 2008; 28) dari Kitab Adab A’lim Wa Muta’allim karangan K.H. Hasyim Asy’ari bahwa yaitu : (1) membersihkan hati dari berbagai sifat yang mengotori, seperti : iri, dengki, dendam serta akhlak dan akidah yang rusak.(2) meniatkan mencari ilmu semata-mata karena Allah SWT , untuk mengamalkannya, menghidupkan syari’atnya dan menyinari hatinya. (3) menyegerakan menuntut ilmu selagi kesempatan memungkinkan.(4) bersifat menerima terhadap pemberian tuhan. (5) membagi waktu dengan sebaik-baiknya. (6) menyedikitkan makan dan minum, karena kebanyakan makan menyebabkan kemalasan. (7) wara’ (8) menghindari makan yang dapat menimbulakan kemalasan dan mengurangi kecerdasan. (9) mengurangi tidur selama tidak membahayakan kesehatan. (10) menghindarai pergaulanyang tidak bermanfaat, terlebih lagi terhadap lawan jenis.

Konsep kedua: etika seorang murid ketika sedang belajar, K.H. Hasyim menginventariskannya  menjadi tiga belas macam, yaitu: (1) mendahulukan mempelajari ilmu yang bersifat fardhu ‘ain. (2) memahami tafsir serta seluk beluknya.(3) berhati-hati dalam menyikapi persoalan yang masih menjadi perdebatan para ulama. (4) mendiskusikan atau mengkonsultasikan hasil belajar kepada orang yang dipercayainya. (5)segera menyimak suatu ilmu, terutama hadist. (6) mempunyai motivasi yang tinggi untuk selalu menelalah ilmu dan tidak menunda-nundanya. (7) dekat dengan orang alim serta bersama-sama mengkajinya.(8) mengucapkan salam ketika memasuki suatu majelis ta’lim. (9) aktif bertanya (10) sportif dalam bertanya ketika banyak yang bertanya (11) hendaknya membacakan kitab dihadapan syekh atau guru, ketika snag guru sedang tidak sibuk. (12) memantapkan pemahaman (13) senang terhadap ilmu.

Konsep ketiga : etika seoarng murid terhadap sumber belajar (buku, kitab), kiai hasyim mengiventariskan menjadi lima macam etika, yaitu: (1) hendaknya murid memiliki buku yang diperlukan. (2) dianjurkan untuk meminjam buku kepada orang lain (saling percaya). (3) meletak buku pada tempatnya. (4) jika mau meminjam atau membeli, hendaklah teliti. (5) suci dari hadas ketika menela’ah buku

4.      Konsep dasar mengajar.

Konsep mengajar  K.H.  Hasyim Asy’ari dapat ditelusuri melalui penjelasannya tentang konsep etika yang harus dicamkan oleh seorang guru yang berkaitan dengan dirinya dan etika seorang guru terhadap pelajarannya.

K.H. Hasyim Asy’ari mengiventarisir terhadap 20 etika yang harus dicamkan seorang yang berkaitan dengan dirinya. Berdasarkan kutipan Sarwo Imam Taufiq; 2008; 32-33) dari Kitab Adab A’lim Wa Muta’allim  karangan K.H. Hasyim Asy’ari .  Dua puluh macam etika itu adalah: 1. Selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT baik sendiri maupun bersama, 2. Selalu takut kepada Allah SWT dalam setiap gerak, 3. Bersikap tenang, 4. Wara’, 5. Tawadhu’, 6. Khusu’ dihadapan Allah SWT, 7. Mengadukan segala persoalan untuk meraih kesenagna duniawi, seperti kedudukan, kekayaan, keterkenalan keapada Allah SWT, 8. Tidak menjadikan ilmu sebagai tangga, 9. Tidak terlalu mengagungkan keduniaan, 10. Berlaku zuhud terhadap kedunian, 11. Menjauhi pekerjaan-pekerjaan hina, baik secara syar’I maupun adat yang berlaku, 12. Menjauhi perbuatan yang dapat merendahka martabat, sekalipun secara batin dapat dibenarkan, 13. Senantiasa menegakkan syari’at islam,menebarkan salam, dan amar ma’ruf nahi mungkar,14. Menghidupkan sunah, 15. Menjaga hal-hal yang di anjurkan dalam agama, membaca Al-qur;an baik dengan hati maupun lisan, 16. Berinteraksi social dengan etika yang luhur, 17. Membersihkan batin dan lahir dari etika-etika yang rendah dan mengisi dengan akhlak-akhlak yang luhur, 18. Senantiasa memperdalam ilmu dan mengamlakannya dengan sungguh-sungguh, 19. Rajin memperdalam kajian keilmuan, 20. Menyibukkan diri dengan membuat tulisan ilmiah dengan sesuai dengan bidangnya.

Konsep kedua adalah etika guru ketika hendak sedang mengajar. K.H. Hasyim Asya’ri menawarkan etika-etika itu antara lain, 1.bersih dari hadas kecil dan besar ketika memasuki ruangan prmbelajaran, 2. membaca doa ketiak hendak keluar rumahak,3. Ketika sampai di masjid memberikan salam kepada yang hadir dan duduk menghadap kiblat, jika memungkinkan dengan teang, tawadhu; dan khusu’ dan tidak mengeluarkan gerakan-gerakan yang tidak perlu, tidak mengejar ketika sedang lapar,haus,sangat sedih,marah, atau sedang kantuk,4. Duduk di tengah para hadirin dengan hormat,  kata yang menyenangkan atau menunjukkan rasa senang dan tidak sombong, 5. Melalui pelajaran dengan membaca sebagian ayat Al-qur’an untuk meminta berkah dari-nya, membaca ta’awudz, basmalah,puji-pujian dan shalawat atas nabi, 6. Mendahulukan pengajaran materi-,ateri yang menjadi prioritas, tidakmemperlama atau memperpendek dalam mengajar, tidak berbicara di luar materi yang sedang dibicarakan,7.Tidak meninggikan suara diluar yang dibutuhkan,8. Menjaga ruangan belajar agar tidak gaduh, 9. Mengingat para hadirin akan tujuan mereka dating ke tempat itu semata-mata ikhlas kareana allah, 10. Menegur murid yang tidak mengindahkan etika-etika ketika sedang belajar  , seperti bervicara dengan teman, tidur dan tertawa, 11. Berkata jujur akan ketidaktahuannya ketika ditanya akan suatu persoalan dan ia betuk-betul belum tahu, sehingga tidak muncul jawabab yang menyesatkan, 12. Memberi kesempatan kepada peserta didik yang datang terlamabat dan mengulangi penjelasan agar tahu yang dimaksud, 13. Menutup pelajaran dengan do’a penutup majlis.

5.      Relasi pendidik dan peserta didik

Untuk memahami konsep relasi pendidik dan peserta didik dari  K.H. Hasyim Asy’ari, terlebih dahuli perlu dipaparkan bagaimana konsep beliau tentang etika seorang murid terhadap guru dan etika guru tethadap muridnya. Dari dua konsep etika itu, dapat dipahami bagiamana relasi antara keduanya terjalin.

Kiai hasyim mengiventarisir terhadap dua belas macam etika yang harus dipedomani seorang siswa ketika berhadapan dengan guru, yaitu: (1) hendaknya menjadi pedoman seorang murid agar meneliti dahulu dengan meminta petunjuk kepada Allah SWT siapa guru yang akan mendidknya dengan mempertimbangkan akhlak dan etikanya.

Gurunya yang baik adalah cakap dan professional, kasih sayang, berwibawa, menjaga diri dari hal-hal yang dapat merendahkan martabat, berkarya, pandai mengajar, dan berwawasan luas, (2) memilah guru yang betul-betul mampu dan diakui kapasitas keilmuannya,(3) menurut dan tidak membentak guru seperti halnya orang sakit yang harus menurut kepada dokter yang ahli, (4)menghormati guru dan berkeyakinan bahwa seorang guru memiliki derajat kesempurnaan,(5) mengetahui kewajiban yang harus ditunaikan pada gurunya dan mendo’akan semasa hidup dan wafatbnya. (6) bersabar terhadap kekerasan guru atau keburukan akhlaknya serasa tetap menggauli dan tetap berkeyakinan bahwa sang guru masih memiliki derajat kesempurnaan, (7) tidak menghadap guru kecuali jika diijinkan, (8) duduk di depan guru dengan sopan, (9) bertutur kata yang bagus, (10) tidak sok tahu, meskipun apa yang disampaikan guru itu sudah tahu, (11) tidak mendahului guru menjelaskan suatu persoalan atau menjawab pertanyaan dan memotong pembicaraan guru ketika sedang menjelaskan, (12) menerima atau member sesuatu kepada guru dengan tangan kanan.

Sedangkan etika seorang guru terhadap muridnya, kiai hasyim mengivintarisir terhadap empat belas macam, yaitu: (1) meniatkan mengajar semata-mata karena allah, untuk menyebarkan ilmu dan menghidupkan syari’at islam, (2) menghindari ketidak ikhlasan dan mengejar keduniaan, (3) mencintai murid-murinya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri, (4) mengajar dengan metode yang mudah dipahami para muridnya, (5) menjelaskan materi pelajaran dengan sejelas-jelasnya, kalau perlu diulang sampai murid betul-betul paham, (6) tidak membebani murid di luar kemampuannya yang dapat menyebabkan dia merasa tertekan, (7) sesekali meminta murid untuk mengulangi hafalan atau pelajaran yang telah lalu, (8) tidak bersikap pilih kasih, meskipun terhadap murid yang memilki kelebihan sekalipun. Guru cukup memberikan respek kepada murid yang memiliki kelebihan tanpa mengistimewakannya di antara murid yang lainnya, (9) selalu memperhatikan adsensi presentasi murid, mengetahui nama-namanya, dan lain-lain, (10) hendaknya guru memililki perangai yang baik. Seperti selalu menebarkan salam. Bertutur kata yang lembut dan santun, (11) membantu siswa mengatasi kesulitan, baik dengan pengaruh maupun dengan hartanya, (12) jika terdapat siswa yang absen, atau justru jumlahnya bertambah dari kebiasaan, maka hendaknya diklasifikasikan keberadaan dan keadaanya, (13) mempunyai sikap tawadhu’ tehadap muridnya, dan (14) berbicara kepada muruidnya yang memiliki kelebihan, memanggil mereka dengan sebutan yang baik, menunjukkan sikap yang ramah ketika bertemu dengan muridnya, menghormati ketika seorang murid duduk bersamanya, dan menjawab pertanyaan dengan senang hati dan memuaskan

Kedua belas macam etika tersebut kalau ditelaah lebih dalam, sesungguhnya dapat diserhanakan menjadi tiga hal. Pertama, seorang murid harus mencari dan memiih guru  yang betul-betul memilih kualifikasi sebagai seorang guru. Kedua, hendaknya mempunyai keyakinan bahwa seorang guru memiliki derajat kesempurnaan dan tidak pernah luntur sekalipun meski diketahui guru tersebut memiliki perangai (akhlak) yang kurang baik. Ketiga, hendaknya seorang murid selalu menghormati guru dalam situasi yang bagiamanapun. Suatu penghormatan semata-mata dilakukan karena ilmu yang dimilki guru tersebut.

Dua rumusan di ats dikutip secara agak lengkap dengan maksud untuk mendapatkan gambaran yang jelas bagaimana relasi pendidik dan peserta didik terjalin dengan baik. Dan dari rumusan di ats juga tergambarkan bahawa hubungan pendidik dan peserta didik dibangun atas dasar penghormatan yang besar dari murid dan cinta kasih yang tulus dari seorang guru. Sehingga hubungan diantara kedunya bagaikan hubungan seorang bapak kandung dan anaknya. Di samping menaruh perhatian besar pada hubungan guru dan murid, pembelajaran harus dilaksanakan secara professional, K.H. Hasyim Asy’ari tampak juga menekankan pada pentingnya pembimbingan terhadap anak didik. Sehingga guru adalah sosok pengajar yang profesioanal dan pembimbing bagi siswa dalam menghadapi persoalan-persoalan.

C.     PERBANDINGAN  PEMIKIRAN  K.H. HASYIM ASY’ARI  DENGAN BEBERAPA PEMIKIR KEPENDIDIKAN  LAINNYA

Dalam dunia pendidikan banyak sekali terjadi persamaan pendapat dan perbedaan pendapat khususnya dalam hal konsep pendidikan. Dalam pemikiran pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari lebih focus kepada persoalan-persoalan etika dalam mencari dan menyebarkan ilmu. Beliau berpendapat bahwa bagi seorang yang akan mencari ilmu pengetahuan atau menyebarkan ilmu pengetahuan, yang pertama harus ada pada diri mereka adalah semata-mata untuk mencari ridho Allah swt. ( Kholid Mawardi ; 2008 ; 2)

Menurut KH. Ahmad Dahlan, upaya strategis untuk menyelamatkan umat islam dari pola berpikir yang statis menuju pada pemikiran yang dinamis adalah melalui pendidikan. Pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat.( Samsul Nizar; 2002; 100)

Menurut KH. Ahmad Dahlan, pendidikan islam hendaknya diarahkan pada usaha membentuk manusia muslim yang berbudi pekerti luhur, alim dalam agama, luas pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, serta bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.

Sedangkan Pemikiran pendidikan Ibnu Miskawaih tidak dapat dilepaskan dari konsepnya tentang manusia dan akhlaq. Untuk kedua masalah ini dapat dikemukakan sebagai berikut. Konsep Manusia yaitu Sebagaimana para filosof lainnya ibn miskawaih memandang manusia sebagai mahluk yang memiliki macam-macam daya. Menurutnya dalam diri manusia ada tiga daya yaitu: (1) Daya bernafsu sebagai daya terendah, (2) Daya berani sebagai daya pertengahan (3) Daya berfikir sebagai daya tertinggi. Ketiga daya ini merupakan unsur rohani manusia yang asal kejadiannya berbeda.( Nata. Abudin; 2003; 6-7) dan konsep Akhlaq menurut konsep Ibnu Miskawaih, ialah suatu sikap mental atau keadaan jiwa yang mendorongnya untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan. Sementara tingkah laku manusia terbagi menjadi dua unsur, yakni unsur watak naluriah dan unsur lewat kebiasaan dan latihan.

Dalam  Hal ini juga , Konsep pendidikan Muhammad Abduh ialah konsep pendidikan yang lebih di latar belakangi faktor situasi sosial ke agamaan dan situasi pendidikan islam yang sedang mengalami kemunduran baik di bidang ilmu pengetahuan dan bidang ke agamaan.( http://www. konsep-pendidikan-dalam-perspektif.html)

Muhammad Athiyah Al-Abrasyi membagi lima (5) azas yang menjadi sasaran tujuan pendidikan Islam,  antara lain: pertama ,Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia. Kedua, Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat. Ketiga, Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan atau tujuan vokasional dan professional. Keempat, Menumbuhkan roh ilmiah (scientific sprint) pada pelajar dan memuaskan keinginan arti untuk mengetahui (curiosity) dan memungkinkan peserta didik mengkaji ilmu sekedar sebagai ilmu. Kelima, Menyiapkan pelajar dari segi professional, tekhnikal, dan pertukangan supaya dapat menguasai profesi tertentu.

Sedangkan Dari hasil studi terhadap pemikiran Al-Ghazali, diketahui dengan jelas bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan yaitu:

a.      Tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah SWT

b.      Kesempurnaan insan yang bermuara pada kebahagiaan dunia akhirat

Pendapat Al-Ghazali tersebut disamping bercorak religius yang merupakan ciri spesifik pendidikan Islam, cenderung untuk membangun aspek sufistik. Manusia akan sampai kepada tingkat kesempurnaan itu hanya dengan menguasai sifat keutamaan melalui jalur ilmu. Dengan demikian, modal kebahagiaan dunia dan akhirat itu tidak lain adalah ilmu.

Secara implisit, Al-Ghazali menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk insan yang paripurna, yakni insan yang tahu kewajibannya, baik sebagai hamba Allah, maupun sebagai sesama manusia.

Dalam sudut pandang ilmu pendidikan Islam, aspek pendidikan akal ini harus mendapat perhatian serius. Hal ini dimaksudkan untuk melatih dan pendidikan akal manusia agar berfikir dengan baik sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Adapun mengenai pendidiakn hati seperti dikemukakan Al-Ghazali merupakan suatu keharusan hagi setiap insan.

Dengan demikian, keberadaan pendidikan bagi manusia yang meliputi berbagai aspeknya mutlak diperlukan bagi kesempurnaan hidup manusia dalam upaya membentuk mausia paripurna, berbahagia di dunia dan akhirat kelak. Hal ini berarti bahwa tujuan yang telah ditetapkan oleh Imam Al-Ghazali memiliki koherensi yang dominan denga upaya pendidikan yang melibatkan pembentukan seluruh aspek pribadi manusia secara utuh.

Menurut Ibnu Miskawaih, pendidikan yang sistematis dapat dilaksanakan apabila didasari dengan pengetahuan mengenai jiwa yang benar. Oleh karena itu pengetahuan tentang jiwa adalah sangat penting sekali dalam proses pendidikan. Kajian mengenai konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Ibnu Miskawaih, diharapkan mampu menguak konsep pendidikan Islam dalam skala khusus, terutama pendidikan akhlak yang dirasa penting, karena setiap budaya memiliki norma etika atau tata susila yang harus dipatuhi. Oleh karena itu, moral merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal, yang hanya terdapat pada diri manusia.(Yusran ; 1996)

Dari karya Ibnu Miskawaih, tidak di temukan buku yang bertemakan “pendidikan” secara langsung. Hanya beberapa buku yang pembahasannya berkaitan dengan pendidikan dan kejiwaan, akal serta etika. Salah satu buku yang dinilai banyak mengandung konsep pendidikan ialah kitab Tahzib al-Akhlak wa Tathhir al-A’raq, yang banyak dijadikan rujukan ulama’ dalam pendidikan.

Dari konsep pemikiran pendidikan yang disampaikan oleh Ibnu Miskawaih, jika ditelaah dengan pendekatan epistemology secara hirarkhi, maka konsep tersebut selalu mengacu kepada tiga hirarkhi yaitu yang mengacu kepada kondisi psikologis dan kesiapan peserta didik, yang dipetakan menjadi tiga tingkatan yaitu bayany untuk pemula, burhany untuk orang dewasa dan ‘Irfany bagi mereka yang telah matang baik jiwa maupun intelektual. Sementara dari segi materi dan sasarannya juga dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu empirik bagi pemula, logik bagi dewasa dan etika bagi mereka yang sudah matang.
Penerapan sistem koedukasi dalam pendidikan Islam bagi Al-Qabisy bahwa tidak baik anak pria dan wanita bercampur dalam suatu kelas, karena dikhawatirkan rusak moralnya, maka pemisahan tempat pendidikan wajib dilakukan demi terjaga keselamatan anak-anak dari penyimpangan-penyimpangan akhlak. Sedangkan Rasyid Ridha menolak adanya manfaat dari koedukasi, dan menganggap bahwa koedukasi bukan sekedar memiliki kekurangan, namun dapat mendatangkan malapetaka, utamanya kaum wanita. (Yusran ; 1996)

D.    KARYA K.H. HASYIM ASY’ARI

Tidak diragukan kagi bahwa  K.H Hasyim Asy’ari merupakan seorang alim ulama yang sangat termashur di Indonesia khususnya di pulau jawa. Beliau merupakan salah seorang tokoh panutan ulama-ulama nusantara khususnya bagi kader-kader organisasi nahdatul ulama.(Musarmadan;2006; 21)

Berdasarkan dari skipsi ilmiah musarmadan bahwa ada sekitar sepuluh karangan beliau semasa masih hidup adalah :

1.      Adab ’Alim wa Muta’allim, yaitu kitab yang membahsa tentang tata cara belajar dari tinjauan akhlak

2.      Ziyadah at-Ta’uqat, yaitu kitab yang menjawab terhadap syair syekh Abdullah bin yasin , pasuruan yang menghina NU

3.      At-tanbihat al-Wajibat Liman Yansa al-Maulid bil Munkarat, yaitu  kitab tentang peringatan-peringatan bagi orang yang berbuat kemungkaran pada acara maulud

4.      Risalah al-Jama’ah, yaitu kitab tentang  keadaan orang mati, tanda-tanda kiamat dan penjelasan tentang suanh dan bid’ah

5.      An-nur al-Mubin  fil Mahabbah Sayyid al-Mursalin, yaitu  kiatab tentang mencintai rasullah saw serta mengikuti suanah beliau.

6.      Hasyi’ah ala Fathi Rohman bi Syarh Risalah al Wali li  Syekh Zakariya al-Ansori, yaitu kitab syarah dari karang Syekh Zakariya al-Ansori

7.      Ad-duror al-Munqotirah fi Masail Tis’a Asyaro, yaitu kitab tentang uraian tariqat, wilayah dan hal-hal yang berhubungan masalah pokok pengikut tereqat

8.      At-tobyan fi Nahy al-Muqatiati al Arkam wa az-Zarib wal Ikhwan, yaitu kitabtentang pentingnya menyambung persaudaran dan bahaya memutuskan persaudaraan

9.      Ar-risalah at-Tauhidiyah, yaitu kitab tentang tauhid

10.  Al-qalail fi Bayani Ma Wajibu min al Aqoid, yaitu kitab tentang kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan dalam akidah

 

BAB III

PENUTUP

a.       Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan makalah di atas dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan menurut K.H. Hasyim Asy’ari dalam Kitab Adab ’Alim Wa Muta’allim berdasarkan kutipan Sarwo Imam Taufiq dari Kitab induknya yaitu meliputi :

a.       Tujuan pendidikan yaitu untuk mewujudkan masyarakat beretika, titik tekan pada moralitas itu tampak mendominasi di berbagai tempat dalam karyanya.

b.      Konsep dasar belajar yaitu mengembangkan seluruh potensi jasmani dan rohani untuk pelajar, menghayati, menguasai dan mengamalkan secara benar ilmu-ilmu yang dtuntut untuk keperluan dunia dan agama.

c.       Konsep dasar mengajar yaitu ada beberapa hal etika yang harus dilakukan guru dianataranya : mendekatkan diri kepada Allah, bersikap tenang, wara/ tawadhu, khusu; mengadukan segala persoalan kepada allah, bersikap zuhud, dan rajin memperdalam kajian keilmuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Burhanudin , Tamyiz , Akhlak Pesantren: Pandangan K.H. Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta:

Ittaqo Press, 2001)

Dr. H. Samsul Nizar, MA, Filsafat Pendidikan Islam : Pendidikan historis, teoritis, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002)

Nata, Abudin. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2003)

Lathiful, Khuluq, Fajar Kebangunan Ulama. Biografi K.H. Hasyim Asy’ari, (Yogyakarta:LKis, 2000)

Asmuni, Yusran, Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan pembaharuan dalam Dunia Islam. Jakarta: Raja Grapindo Persada, 1996

Mawardi , Kholid , Jurnal  Pemikiran Alternatif Pendidikan : Moralitas  Pemikiran Pendidikan  K. H. Hasyim asy’ari. (Yogyakarta : Insania , 2008)

 

Musrmadan, Skipsi:  Akhlak Guru Dan Murid Menurut Kiai Hasyim Asy’ari, (Tidak Ada Penerbit , 2006)

 

Solikah,  Tesis: Pendidikan Karakter  Menurut  K.H. Hasyim asy”ari Dalam Kitab Adab A’lim Wa Mutaalim, (Malang : Tidak ada penerbit , 2012)

Sarwo Imam Taufiq,  Skipsi : Konsep Pendidikan K.H. Hasyim asy’ari Dalam Kitab Adab A’lim Wa Mutaallim Dalam Perspektif Progresivisme, (Semarang: Tidak ada Penerbit , 2008)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Bahaya Mencuri dan Hukumannya

Lima Sebab Makanan dan Minuman Diharamkan
1. Menimbulkan bahayapada badan dan akal
2. Membawa dampak memabukan
3. Menandung Najis
4. Menjijikkan bagi yang melihat dan memakannya
5. Bukam milik sendiri / MENCURI

CIRI –CIRI PERBUATAN MENCURI

1. Memindahkan secara bersembunyi harta alih dari jangkaan atau milikan tuannya.
2. Pemindahan harta itu tanpa persetujuan tuannya.
3. Pemindahan harta itu dengan niat untuk menghilangkan harta tadi dari jangkaan atau milik tuannya.
Tidak ada “PENCURI” ketika mencuri dalam keadaan “BERIMAN” (HR. Bukhori – Muslim)
Rasulullah SAW bersabda,
“Orang yang sedang mencuri sesungguhnya ia dalam keadaan tidak beriman.”

Rasulullah SAW juga menjelaskan, bahwa barang haram menyebabkan doa seseorang tidak dikabulkan oleh Allah SAW. Beliau bersabda: “Banyak orang yang berambut acak-acakan, berdebu dan ditolak oleh manusia dalam perjalanannya, makanannya sesuatu yang haram, pakaianya dari rizki yang haram, diberi makan dari sumber yang haram. Dia mengangkat tanganya sambil berdoa: Yaa Robb, Yaa Robb. Bagaimana bisa orang seperti ini dikabulkan doanya?”
Kita tentu berharap agar doa kita dikabulkan Allah SWT, cita-cita dan harapan kita diwujudkan Allah SWT. Maka untuk itu kita pun menjaga diri kita dari barang haram sekecil apapun itu. Karena rupanya selain doa yang tidak dikabulkan, amal ibadah kita pun bisa tidak diterima jika kita memiliki sesuatu yang haram meski sedikit jumlahnya. Rasulullah SAW menjelaskan hal ini didalam haditsnya:
“Barangsiapa yang memakan satu suapan dari barang haram, maka Allah tiada akan menerima amalnya selama empat puluh hari.”
“Barangsiapa yang membeli baju seharga sepuluh dirham, sedangkan uang tadi terdapat satu dirham yang haram, maka Allah tiada akan menerima amalnya selama empat puluh hari.”
Rasulullah SAW juga menjelaskan, bahwa Allah SWT melaknat orang yang mencuri sampai ia diberikan hukuman (atau bertaubat). Bukankah ini mengerikan, karena laknat siapakah yang lebih mengerikan daripada laknat Allah SWT?
Lalu bagaimana jika seseorang sudah terlanjur meninggal sedangkan ia masih menyimpan sesuatu yang bukan miliknya? Rasulullah SAW telah menjelaskan mengenai hal ini, berliau bersabda:
“Barangsiapa meninggal dan ia memegang harta milik orang lain, baik ia telah memberikan sesuatu darinya atau belum, maka dia seperti orang yang berhutang.”
Maksudnya, harta milik orang lain itu harus dikembalikan kepada pemiliknya agar orang yang meninggal ini selamat dari adzab akhirat.
Selain itu, mencuri juga bisa mendatangkan dosa lain yang berlipat-lipat banyaknya. Contohnya, A mencuri sandal B, lalu B mencuri sandal C, lalu C mencuri sandal D, dan begitu seterusnya. Maka A akan mendapatkan dosa seperti dosa B dan C dan D dan seterusnya, tanpa mengurangi dosa masing-masing. Hal ini disebut sebagai jariyatus suu’ atau dosa yang terus mengalir kepada orang yang menyebabkannya.
Siksa yang ditimpakan kepada pencuri yang tidak mau bertaubat itu berlaku di dunia dan akhirat. Bahkan di akhirat nanti, seorang pencuri akan dimasukkan kedalam neraka dan terancam tidak bisa memasuki surga.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang dagingnya tumbuh dari barang haram.”
Rasulullah SAW juga bersabda: “Setiap daging yang berasal dari sesuatu yang haram, maka daging itu lebih layak untuk menjadi santapan neraka.”
“Barangsiapa mengaku sesuatu yang bukan miliknya maka ia bukan dari golongan kami, dan hendaklah dia menempati tempat duduknya dari neraka.”
Na’udzu billahi min dzalik, kita berlindung kepada Allah dari yang demikian itu.
Mencuri juga dilarang menurut hukum, kejahatan mencuri dibahas dalam pasal 362 KHUP dengan ancaman penjara 5 tahun.
Lalu bagaimana caranya agar kita mampu menjaga diri kita dari barang haram? Caranya kita harus memiliki sifat ihsan, yaitu merasakan bahwa Allah SWT selalu mengawasi kita. Dengan sifat ini insya Allah dalam kondisi apapun kita tetap mampu menjaga kesucian diri.
Suatu hari Abdullah bin Dinar berjalan bersama Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA dari kota Madinah menuju kota Makkah. Di tengah perjalanan beliau bertemu dengan seorang anak gembala. Lalu timbul dalam hati Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA untuk menguji sejauh mana kejujuran dan keamanahan si anak gembala itu.
Beliau berkata, ”Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!” ujar Amirul Mukminin. ”Aku hanya seorang budak,” jawab si gembala. Umar bin Khattab berkata lagi, ”Katakan saja nanti pada tuanmu bahwa anak kambing itu dimakan serigala.”
Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Amirul Mukminin Umar bin Khattab RA, ”Fa ainallah?” (Kurang lebih maknanya adalah, ”Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa siksa Allah itu pasti bagi para pendusta?”
Umar bin Khattab adalah seorang khalifah, pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, persendian-persendian tulangnya terasa lemah, kemudian beliau menangis. Menangis mendengar kalimat tauhid itu, yang mengingatkan pada keagungan Allah, dan tanggung jawabnya di hadapan Allah kelak.
Lalu dibawanya anak gembala yang berstatus budak itu kepada tuannya, kemudian ditebusnya, dan beliau berkata, ”Dengan kalimat tersebut (Fa ainallah?) telah kumerdekakan kamu dari perbudakan itu dan dengan kalimat itu pula insya Allah kamu akan merdeka di akhirat kelak.”
Peristiwa di atas jelas merupakan cermin jiwa yang ihsan, jiwa yang selalu merasakan pengawasan Allah SWT kapanpun dan dimanapun. Subhanallah.
Setan-setan yang terkutuk selalu berusaha menyesatkan kita umat Islam. Dengan berbagai cara mereka berusaha agar kita mencuri hak orang lain. Awalnya hanya niat mencuri, lalu niat ini dilaksanakan satu kali, lalu perbuatan ini diulangi lagi dan lagi, sampai akhirnya menjadi kebiasaan yang sulit disembuhkan.
Seorang ulama mengingatkan: Apabila didalam hatimu terbersit niat untuk melakukan sebuah dosa, maka berusahalah sekuat tenaga untuk menghilangkan niat buruk itu. Jika ternyata niat itu terlanjur menjelma menjadi sebuah perbuatan, maka berusahalah sekuat tenaga untuk tidak mengulangi perbuatan dosa itu. Namun jika ternyata terulang, maka berusahalah sekuat tenaga untuk menahan jangan sampai perbuatan dosa itu menjelma menjadi sebuah kebiasan

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Bahaya Merokok Bagi Generasi Muda

Tak habis-habisnya pembicaraan mengenai bahaya rokok, baik di forum-forum resmi maupun obrolan sehari-hari. Tapi tak habis-habis pula jumlah perokok yang ada di Indonesia maupun di dunia. Meskipun sebenarnya mereka para perokok sudah mengetahui bahaya rokok tetapi mereka tetap saja merokok demi memenuhi kepuasan batinnya.

Ada saja alasan yang perokok gunakan untuk melancarkan aksinya, ada yang bilang untuk mengurangi stress, sudah kecanduan, sebagai teman atau bahkan sebagai penyumbang pendapatan negara. Untuk alasan yang terakhir memang industri rokok khususnya di Indonesia menjadi penyumbang pendapatan negara yang besar.

Bahkan pola hidup tidak sehat ini sudah dimulai oleh kalangan di bawah umur (anak-anak). Mereka karena pengaruh lingkungan sudah mulai mencoba-coba untuk merokok pada usia belia.

Pada saat peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS), di kawasan Cibubur, Selasa (31/5/2011), Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih memaparkan betapa rokok kini semakin mengancam generasi muda.

Menteri Kesehatan dalam sambutannya mengatakan, “Di antara penduduk Indonesia yang umurnya di atas 15 tahun, 35 persen adalah perokok. Dan dari 10 anak laki-laki di atas usia 15 tahun, 6 sampai 7 orang di antaranya merokok”.

Berdasarkan data Riskesdas 2010, prevalensi penduduk usia 15 tahun ke atas yang merokok setiap hari secara nasional mencapai 28,2 persen. Sedangkan berdasarkan usia pertama kali merokok secara nasional, kelompok usia 15-19 tahun menempati peringkat tertinggi dengan prevalensi mencapai 43,3 persen, disusul kelompok usia 10-14 tahun yang mencapai 17,5 persen.

Menurut Endang, situasi lain yang lebih memprihatinkan adalah, bahwa ada 85,4 persen perokok aktif merokok di dalam rumah bersama anggota keluarga, sehingga dapat berakibat buruk terhadap kesehatan anggota keluarga lain khususnya anak-anak.

“Jadi, anak terpapar asap rokok atau sebagai perokok pasif. Anak-anak ini akan mengalami gangguan kesehatan seperti pertumbuhan paru lambat, mudah terkena bronkitis, infeksi telinga dan sebagainya,” tegasnya.

Endang juga menyatakan bahwa rata-rata pengeluaran tumah tangga keluarga miskin untuk membeli rokok jauh di atas rata-rata pengeluaran untuk bahan makanan seperti protein, sayur atau yang lain.

“Jadi kalau orang itu punya uang, pertamakali yang dibeli adalah rokok. Tentu saja selain, tidak baik untuk dirinya sendiri, juga keluarganya,” tegasnya.

Menkes menambahkan, lebih dari 43 juta anak Indonesia hidup serumah dengan perokok dan terpapar asap rokok atau sebagai perokok pasif.  Sebesar 37,3 persen pelajar dilaporkan terbiasa merokok, dan 3 di antara 10 pelajar pertama kali merokok pada usia di bawah 10 tahun.

Kondisi ini, menurut Endang, dikarenakan anak-anak dan kaum muda telah dijejali dengan ajakan merokok oleh iklan, promosi dan sponsor rokok yang sangat gencar. Sebagai perbandingannya Endang mengungkapkan, pembatasan iklan rokok di negara lain sudah dibatasi. Bahkan sudah ada yang total banned, artinya, tidak boleh sama sekali ada iklan atau sponsor rokok.

“Karena sudah tidak ada tempat di negara-negara lain, maka iklan-iklan rokok itu pun masuk ke Indonesia,” terangnya.

Endang berharap, agar para generasi muda bersikap cerdas, dan melihat bahwa merokok tidak cool. “Yang cool adalah tidak merokok karena menyadari bahwa itu tidak sehat dan memperlihatkan bahwa generasi muda bertanggung jawab atas kesehatan dirinya,” ujarnya.

Saat disingung soal sejauhmana upaya pemerintah dalam mengendalikan masalah kesehatan akibat tembakau, Endang mengaku bahwa pihaknya sudah melakukan berbagai upaya di antaranya dengan mengembangkan berbagai regulasi pengendalian rokok, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Kesehatan no 36 tahun 2009.

“Kemudian kita juga kita sedang menyusun Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan. Mudah-mudahan RPP ini bisa cepat selesai menjadi Peraturan Pemerintah (PP),” pungkasnya

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Pahala Sholat Tarawih

Keutamaan Sholat Tarawih Pada Bulan Suci Ramadhan

Hikmah Sholat Tarawih Pada Bulan Suci Ramadhan– Keutamaan Sholat Tarawih Pada Bulan Suci Ramadhan – Ramadhan Bila dipandang dari segi apapun akan selalu membaawa Dampak dan Manfaat yang Positif, Seperti Halnya pada Siang Hari Kita Melakasanakan Puasa, dalam Ilmu Kesehatan sesungguhnya Puasa Justru Membuat Kita Lebih Sehat. Kali ini Khusus Menyajikan tentang Keutamaan Sholat Tarawih Pada Bulan Suci Ramadhan.

Penjelasan Mengenai Fase-Fase Pada Bulan Ramadhan.
Keutamaan Sholat Tarawih Pada Bulan Suci Ramadhan yaitu Fase 10 Hari Pertama Bulan Ramadhan di sebut dengan Malam Rahmat, 10 Hari Kedua di sebut dengan Maghfiroh, dan 10 Hari Ketiga disebut dengan Itsfunminannar (pembebasan dari Api Neraka).
Suatu Ketika Para Sahabat Bertanya Kepada Rasullullah saw, YaRasullullah, apa sih sebenarnya keutamaan (kelebihan) Sholat Sunnat Tarwih Pada Bulan Ramadhan?,lalu Rasullullah pun menjawab sebagaimana   yang dijelaskan dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Saiyidian Ali(r.a), Kelebihan Sholat Sunnat Tarwih Pada bulan Ramadhan Adalah sbb :

Malam Pertama :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam pertama Ramadhan, maka ia akan keluar dari dosa dosa sebagaimana ia baru di lahirkan

Malam Kedua :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam dua Ramadhan, maka dosanya dan kedua dosa ibu bapak nya akan di ampuni oleh SWT

Malam Ketiga :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ketiga Ramadhan, maka maka malaikat yang ada di Arsy berdoa kepada Allah agar diampuni dosa kita

Malam Ke empat :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke empat Ramadhan, maka ia akan memperolah pahala dari orang2 yang membaca kitab Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an

Malam Ke Lima :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam lima Ramadhan, maka Allah akan Memberikan Pahala sebagaimana Pahala nya orang2 yang sholat di masjidil Haram, Masjid Madina dan Aqsa.

Malam Ke Enam :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke enam Ramadhan, maka Malaikat yang tawaf di Baitul Makmur (70Ribu malaikat) serat batu2 dan tanah mendoakan orang2 yang melaksanakan sholat tarwih pada malam ini.

Malam Ke Tujuh :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke tujuh Ramadhan, maka ia akan memperolah pahala Se akan2 bertemu dengan Nabi Musa dan Berjuang mengalahkan musuh ketatnya yaitu Fi’aun dan Hamman.


Malam Ke delapan :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam kedelapan Ramadhan, maka ia akan memperolah pahala yang di lakukan nabi Ibrahim As

Malam Ke Sembilan :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke sembilan Ramadhan, maka ia akan di naikkan mutu dan nilai ibadah nya sebagaimana mutu dan Ibadah Nabi Muhammad SAW.


Malam ke Sepuluh :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke sepuluh Ramadhan, maka Allah akan mengkaruniakan kepadanya kebaikan dunia dan Akhirat.

Malam kesebelas :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam kesebelas Ramadhan, maka ia akan keluar dari dosa dosa sebagaimana ia baru di lahirkan.

Malam Keduabelas :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke duasebelas Ramadhan, maka ia akan datang pada Hari Kiamat dalam ke adaan muka yang bercahaya karna pengaruh Ibadahnya

Malam Ketigabelas :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ketigabelas Ramadhan, maka maka ia akan datang pada hari kiamat dalam ke adaan sentosa, terlepas dari segala kejelekan dan keburukan

Malam Ke empatbelas :
Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke empatbelas Ramadhan, maka malaikat akan datang dan menyaksikan nya melaksanakan sholat Tarwih serta Allah akan melindunginya pada Hari Kiamat

Malam Ke Limabelas :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam limabelas Ramadhan, maka semua malaikat yang menanggung Arsy berselawat kepada nya dan memohonkan ampun atas dosa2.

Malam Ke Enambelas :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke enambelas Ramadhan, maka Allah akan menulis kan kepada nya terlepas dan Azab Neraka dan di masukkan ke Syurga nya Allah.

Malam Ke Tujuhbelas :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke tujuhbelas Ramadhan, maka pahala sholat arwih nya pada malam itu disamakan derjat nya dengan pahala para Nabi

Malam Ke delapanbelas :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam kedelapanbelas Ramadhan, maka Para Malaikat Berseru kepada nya : hai hamba Allah, sesungguhnya Allah SWT telah redha kepada mu, dan kepada ibu bapak mu baik yg masih hidup maupun yang sudah mati.

Malam Ke Sembilanbelas :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke sembilanbelas Ramadhan, maka ia akan menaikkan Derjatnya dalam Syurga Firdaus

Malam ke dua Puluh :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke duapuluh Ramadhan, maka Allah akan mengkaruniakan kepadanya pahala orang2 yang mati syahid dan pahala orang2 sholeh.

Malam ke 21 :

 

Allah SWT membuatkan baginya sebuah istana di surga dari cahaya.

 

Malam ke 22 :

Pada hari kiamat nanti, selamat dari kesulitan dan kesusahan.

Malam ke 23 :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke 23 Ramadhan, maka Allah buat khusus untuk nya kota (taman indah di Syurga)

Malam ke 24 :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke 24 Ramadhan, maka Akan di kabulkan oleh Allah swt 24 Macam do’anya

Malam ke 25 :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke 25  Ramadhan, maka Allah akan membebaskan nya dari Azab kubur

Malam ke 26 :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke 26 Ramadhan, maka ia akan mendapat pahala dari Allah swt untuk 40 tahun

Malam ke 27 :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke 27 Ramadhan, maka ia akan melewati titian Shirotal Mustaqim secepat kilat

Malam ke 28 :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke 28 Ramadhan, maka di tinggikan Derjat nya di Syurga 1000 derjat

Malam ke 29 :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke 29 Ramadhan, maka ia akan mendapat pahala dari Allah bagaikan 1000 kali pahala Naik Haji

Malam ke 30 :

Barang Siapa yang melaksanakan Sholat Sunnat Tarwih pada malam ke 30 Ramadhan, maka Allah Berfirman kepada nya

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

RA. KARTINI

Raden Ajeng Kartini lahir pada 21 April tahun 1879 di kota Jepara, Jawa Tengah. Ia anak salah seorang bangsawan yang masih sangat taat pada adat istiadat. Setelah lulus dari Sekolah Dasar ia tidak diperbolehkan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi oleh orangtuanya. Ia dipingit sambil menunggu waktu untuk dinikahkan. Kartini kecil sangat sedih dengan hal tersebut, ia ingin menentang tapi tak berani karena takut dianggap anak durhaka. Untuk menghilangkan kesedihannya, ia mengumpulkan buku-buku pelajaran dan buku ilmu pengetahuan lainnya yang kemudian dibacanya di taman rumah dengan ditemani Simbok (pembantunya).

Akhirnya membaca menjadi kegemarannya, tiada hari tanpa membaca. Semua buku, termasuk surat kabar dibacanya. Kalau ada kesulitan dalam memahami buku-buku dan surat kabar yang dibacanya, ia selalu menanyakan kepada Bapaknya. Melalui buku inilah, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir wanita Eropa (Belanda, yang waktu itu masih menjajah Indonesia). Timbul keinginannya untuk memajukan wanita Indonesia. Wanita tidak hanya didapur tetapi juga harus mempunyai ilmu. Ia memulai dengan mengumpulkan teman-teman wanitanya untuk diajarkan tulis menulis dan ilmu pengetahuan lainnya. Ditengah kesibukannya ia tidak berhenti membaca dan juga menulis surat dengan teman-temannya yang berada di negeri Belanda. Tak berapa lama ia menulis surat pada Mr.J.H Abendanon. Ia memohon diberikan beasiswa untuk belajar di negeri Belanda.

Beasiswa yang didapatkannya tidak sempat dimanfaatkan Kartini karena ia dinikahkan oleh orangtuanya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Setelah menikah ia ikut suaminya ke daerah Rembang. Suaminya mengerti dan ikut mendukung Kartini untuk mendirikan sekolah wanita. Berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan Sekolah Wanita di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah “Sekolah Kartini”. Ketenarannya tidak membuat Kartini menjadi sombong, ia tetap santun, menghormati keluarga dan siapa saja, tidak membedakan antara yang miskin dan kaya.

Pada tanggal 17 september 1904, Kartini meninggal dunia dalam usianya yang ke-25, setelah ia melahirkan putra pertamanya. Setelah Kartini wafat, Mr.J.H Abendanon memngumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Buku itu diberi judul “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Saat ini mudah-mudahan di Indonesia akan terlahir kembali Kartini-kartini lain yang mau berjuang demi kepentingan orang banyak. Di era Kartini, akhir abad 19 sampai awal abad 20, wanita-wanita negeri ini belum memperoleh kebebasan dalam berbagai hal. Mereka belum diijinkan untuk memperoleh pendidikan yang tinggi seperti pria bahkan belum diijinkan menentukan jodoh/suami sendiri, dan lain sebagainya.

Kartini yang merasa tidak bebas menentukan pilihan bahkan merasa tidak mempunyai pilihan sama sekali karena dilahirkan sebagai seorang wanita, juga selalu diperlakukan beda dengan saudara maupun teman-temannya yang pria, serta perasaan iri dengan kebebasan wanita-wanita Belanda, akhirnya menumbuhkan keinginan dan tekad di hatinya untuk mengubah kebiasan kurang baik itu. Belakangan ini, penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar agak diperdebatkan. Dengan berbagai argumentasi, masing-masing pihak memberikan pendapat masing-masing. Masyarakat yang tidak begitu menyetujui, ada yang hanya tidak merayakan Hari Kartini namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember.

Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya. Namun yang lebih ekstrim mengatakan, masih ada pahlawan wanita lain yang lebih hebat daripada RA Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya. Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah dalam skop nasional. Sekalipun Sumpah Pemuda belum dicetuskan waktu itu, tapi pikiran-pikirannya tidak terbatas pada daerah kelahiranya atau tanah Jawa saja. Kartini sudah mencapai kedewasaan berpikir nasional sehingga nasionalismenya sudah seperti yang dicetuskan oleh Sumpah Pemuda 1928.

Terlepas dari pro kontra tersebut, dalam sejarah bangsa ini kita banyak mengenal nama-nama pahlawan wanita kita seperti Cut Nya’ Dhien, Cut Mutiah, Nyi. Ageng Serang, Dewi Sartika, Nyi Ahmad Dahlan, Ny. Walandouw Maramis, Christina Martha Tiahohu, dan lainnya. Mereka berjuang di daerah, pada waktu, dan dengan cara yang berbeda. Ada yang berjuang di Aceh, Jawa, Maluku, Menado dan lainnya. Ada yang berjuang pada zaman penjajahan Belanda, pada zaman penjajahan Jepang, atau setelah kemerdekaan. Ada yang berjuang dengan mengangkat senjata, ada yang melalui pendidikan, ada yang melalui organisasi maupun cara lainnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang bangsa, pahlawan-pahlawan bangsa yang patut kita hormati dan teladani.

Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi. Bagi wanita sendiri, dengan upaya awalnya itu kini kaum wanita di negeri ini telah menikmati apa yang disebut persamaan hak tersebut. Perjuangan memang belum berakhir, di era globalisasi ini masih banyak dirasakan penindasan dan perlakuan tidak adil terhadap perempuan.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Syair Gus Dur

Munajat Gus Dur
Ngawiti ingsun nglaras syingiran
Kelawan muji maring pengeran
Kang paring rohmat lan kanikmatan
Rino wengine tanpo pitungan
Duh bolo konco priyo wanito
Ojo mung ngaji syariat bloko
Gur pinter ndongeng nulis lan moco
Tembe mburine bakal sangsoro

Akeh kang apal Quran Hadise
Seneng ngafirke marang liyane
Kafire dewe dak digatekke
Yen isih kotor ati akale

Gampang kabujuk nafsu angkoro
Ing pepahese gebyareng dunyo
Iri lan meri sugieh tonggo
Mulo atine peteng lan nisto

Ayuh sedulur jo nglaleake
Wajibe ngaji sa’pranatane
nggo ngandelake iman tauhide
Baguse sangu mulyo matine

Kang aran sholeh bagus atine
Kerono mapan sari ngelmune
Laku torikot lan ma’rifate
Ugo hakikot manjing rasane

Al Quran Qodim wahyu minulyo
Tanpo tinulis iso diwoco
Iku wejangan gusu waskito
Den tanjebake ing jero dodo

Kumantil ati lan pikiran
Ngrasuk ing badan kabeh jeroan
Mu’jizat rosul dadi pedoman
Minongko dalan manjinge iman

Kelawan Alloh kang moho suci
Butuh rangkulan rino lan wengi
Ditirakati diriyadlohi
Dzikir lan suluk jog nganti lali

Uripe ayem rumongso aman
Dununge roso tondo yen iman
Sabar narimo nadjan pas-pasan
Kabeh dinakdir saking pengeran

Kelawan konco dulur lan tonggo
Podo rukuno
Iku sunnaeh rosul kang mulyo
Nabi Muhammad panutan kito

Ayuh ngelakoni sekabehane
Alloh kang bakal ngangkat drajate
Senadjan asor toto dzohire
Ananging mulyo makom drajate

Lamon palastro ing pungkasane
Ora kesasar roh lan sukmane
Den gadang Alloh suwargo manggone
Utuh mayite ugo ulese

Dipublikasi di Uncategorized

Abu Nawas Disembelih

Kisah Abu Nawas akan Disembelih
Hari itu Abu Nawas sengaja menghabiskan waktunya berkeliling kampung, pinggiran Kota Baghdad. Ia baru pulang saat menjelang maghrib. Ketika lewat Kampung Badui (orang gurun) ia bertemu dengan beberapa orang yang sedang memasak bubur. Suasananya ramai, bahkan riuh rendah. Tanpa disadari ia di tangkap oleh orang-orang itu dan dibawa ke rumah mereka untuk disembelih.
“Mengapa aku ditangkap?” tanya Abu Nawas.
“Hai, orang muda, kata salah seorang diantaranya sambil menunjuk ke belanga yang airnya sedang mendidih, “Setiap orang yang lewat di sini pasti kami tangkap, kami sembelih seperti kambing, dan dimasukkan ke belanga bersama adonan tepung itu. Inilah pekerjaan kami dan itulah makanan kami sehari-hari.”
Meski ketakutan Abu Nawas masih berpikir jernih, katanya, “Lihat saja, badanku kurus, jadi dagingku tidak seberapa, kalau kau mau besok aku bawakan temanku yang badannya gemuk, bisa kau makan untuk lima hari. Aku janji, maka tolong lepaskan aku.”
“Baiklah, bawalah orang itu kemari,” jawab si Badui.
“Besok waktu maghrib orang itu pasti kubawa kemari,” kata Abu Nawas lagi. Setelah saling bersalaman sebagai tanda janji, Abu Nawas pun di lepas.
Di sepanjang jalan menuju rumahnya, Abu Nawas berpikir keras, “Sultan itu kerjanya seharian hanya duduk-duduk sehingga tidak tahu keadaan rakyat yang sebenarnya. Banyak orang jahat berbuat keji, menyembelih orang seperti kambing, tidak sampai ke telinga Sultan. Aneh, kalau begitu. Biar kubawa Sultan ke kampung Badui, dan kuserahkan kepada tukang bubur itu.”
Lantas Abu Nawas masuk ke istana dan menghadap Sultan. Setelah memberi hormat dengan membungkukkan badan, ia berkata, ya tuanku, Syah Alam, jika tuanku ingin melihat tempat yang sangat ramai, bolehlah hamba mengantar kesana. Di sana ada pertunjukan yang banyak dikunjungi orang.”
“Kapan pertunjukan itu dimulai?” tanya sang Sultan.
“Lepas waktu ashar, tuanku,” jawab Abu Nawas.
“Baiklah.”
Abu Nawas pamit pulang, esok sore Abu Nawas siap menemani Sultan ke kampung Badui. Sesampainya di rumah penjual bubur, baginda mendengar suara ramai yang aneh baginya.
“Bunyi apakah itu, kok ramai sekali?” tanya baginda sambil menunjuk sebuah rumah.
“Ya tuanku, hamba juga tidak tahu, maka izinkanlah hamba menengok ke rumah itu, sebaiknya tuan menunggu di sini dulu.” Kata Abu Nawas.
Sesampainya di rumah itu Abu Nawas melapor kepada si pemilik rumah bahwa ia telah memenuhi janjinya membawa seseorang yang berbadan gemuk. “Ia sekarang berada di luar dan akan aku serahkan kepadamu.” Ia kemudian keluar bersama si pemilik rumah menemui Sultan.
“Bunyi apa yang riuh rendah itu?” tanya Sultan.
“Rumah itu tempat orang berjualan bubur, mungkin rasanya sangat lezat sehingga larisnya bukan main dan pembelinya sangat banyak. Mereka saling tidak sabar sehingga riuh rendah bunyinya,” kata Abu Nawas.
Sementara itu si pemilik rumah tadi tanpa banyak cingcong segera menangkap Sultan dang membawanya ke dalam rumah. Abu Nawas juga segera angkat kaki seribu. Dalam hati ia berpikir, “Jika Sultan itu pintar, niscaya ia bisa membebaskan diri. Tapi kalau bodoh, matilah ia disembelih orang jahat itu.”
Akan halnya baginda Sultan, ia tidak menyangka akan dipotong lehernya. Dengan nada ketakutan Sultan berkata, “Jika membuat bubur, dagingku tidak banyak, karena dagingku banyak lemaknya, lebih baik aku membuat peci. Sehari aku bisa membuat dua buah peci yang harganya pasti jauh lebih besar dari harga buburmu itu?” Seringgit” jawab orang itu.
“Seringgit?” tanya Sultan. “Hanya seringgit? Jadi kalau aku kamu sembelih, kamu hanya dapat uang seringgit? Padahal kalau aku membuat kopiah, engkau akan mendapat uang dua ringgit, lebih dari cukup untuk memberi makan anak-istrimu.”
Demi mendengar kata-kata Sultan seperti itu, dilepaskannya tangan Sultan, dan tidak jadi disembelih.
***
Sementara itu Kota Bagdad menjadi gempar karena Sultan sudah beberapa hari tidak muncul di Balairung. Sultan hilang, seluruh warga digerakkan untuk mencari Sultan ke segenap penjuru negeri. Setelah hampir sebulan, orang mendapat kabar bahwa Sultan Harun Al-Rasyid ada di kampung Badui penjual bubur. Setiap hari kerjanya membuat Peci dan si penjualnya mendapat banyak untung.
Terkuaknya misteri hilangnya Sultan itu adalah berkat sebuah peci mewah yang dihiasi dengan bunga , di dalam bunga itu menyusun huruf sedemikian rupa sehingga menjadi surat singkat berisi pesan: “Hai menteriku, belilah kopiah ini berapapun harganya, malam nanti datanglah ke kampung Badui penjual bubur, aku dipenjara di situ, bawalah pengawal secukupnya.” Peci itu kemudian diberikan kepada tukang bubur dan agar dijual kepada menteri laksamana, karena kopiah ini pakaian manteri.”Harganya sepuluh ringgit, niscaya dibeli oleh menteri itu,” pesannya.
Tukang bubur itu sangat senang hatinya, maka segeralah ia pergi kerumah menteri tersebut. Pak menteri juga langsung terpikat hatinya begitu melihat peci yang ditawarkan itu, memang bagus buatannya, apalagi dihiasi dengan bunga diatasnya. Namun ia kaget begitu mendengar harganya sepuluh ringgit, tidak boleh kurang. Dan ketika matanya menatap bunga itu tampaklah susunan huruf. Setelah dia baca, mengertilah dia maksud kopiah itu dan segera dibayarnya.
Malamnya menteri dengan pengawal dan seluruh rakyat mendatangi kampung Badui dan segera membebaskan Sultan dan membawanya ke Istana. sedangkan penghuni kampung Badui itu, atas perintah Sultan, dibunuh semuanya karena perbuatannya terlalu jahat.
Keesokan harinya Sultan memerintahkan menangkap Abu Nawas dan akan menghukumnya karena telah mempermalukan Baginda Sultan. Ketika itu Abu Nawas sedang shalat duhur. Setelah salam iapun ditangkap beramai-ramai oleh para menteri yang diutus kesana dan membawanya pergi ke hadapan sultan.
Begitu melihat Abu Nawas, wajah Sultan berubah garang, matanya menyala seperti bara api, beliau marah besar. Dengan mulut mnyeringai beliau berkata, “Hai, Abu Nawas, kamu benar-benar telah mempermalukan aku, perbuatanmu sungguh tidak pantas, dan kamu harus dibunuh.
Maka, Abu Nawas pun menghormat. “Ya tuanku, Syah Alam, sebelum tuanku menjatuhkan hukuman, perkenankan hamba menyampaikan beberapa hal.”
“Baiklah” kata Sultan, “Tetapi kalau ucapanmu salah, niscaya aku bunuh hari ini juga kamu.”
“Ya Tuanku Syah Alam, alasan hamba menyerahkan paduka kepada si penjual bubur itu adalah ingin menunjukkan kenyataan di dalam masyarakat negeri ini kepada paduka. Karena hamba tidak yakin paduka akan percaya dengan laporan hamba. Padahal semua kejadian yang berlaku di dalam negeri ini adalah tanggung jawab baginda kepada Allah kelak. Raja yang adil sebaiknya mengetahui semua perbuatan rakyatnya, untuk itu setiap Raja hendaknya berjalan-jalan menyaksikan hal ihwal mereka itu. Demikianlah tuanku, jika perkataan hamba ini salah, hukumlah hamba, tetapi bila hukuman itu dilaksanakan juga hamba tidak ikhlas, sehingga dosanya menjadi tanggung jawab tuanku di dalam neraka.”
Setelah mendengar ucapan Abu Nawas, hilanglah amarah baginda. Dalam hati beliau membenarkan seluruh ucapan Abu Nawas itu.
“Baiklah, kuampuni kamu atas segala perbuatanmu, dan jangan melakukan perbuatan seperti itu lagi kepadaku.”
Maka, Abu Nawas pun menghaturkan hormat serta mohon diri pulang ke rumah.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar